Pintar Saja Tak Cukup

Desember 25th, 2008 by catatanawan

Nilai dan penyesuian diri terhadap lingkungan, memang dua hal yang berbeda tapi penting. Nilai memang diberikan sebagai penilaian konkrit yang biasa disimbolkan dengan angka. Terkadang penilaian tiap orang tidak selalu sama, karena permasalahannya cita rasa orang yang berbeda-beda. Penyesuaian diri terhadap lingkungan juga biasanya membentuk emosi.

            Menjadi orang yang pintar dengan IQ tinggi bukanlah segala-galanya —untuk saat ini atau mungkin baru disadari— menjadikan kita sebagai pribadi yang utuh. Inilah jawabannya mengapa seseorang yang pasif, pendiam bisa berubah ketika masuk ke lingkungan baru menjadi orang yang supel dan pandai bergaul.

Itulah EQ (Emotional Quotient) sebagai barometer yang bisa menjadikan kita, saya dan Anda, sebagai seorang yang selain berhasil di pekerjaan, juga berhasil dalam bersosialisasi. Pribadi yang pintar, cerdas, dan menyenangkan adalah ‘paket’ ideal bagi seseorang agar sukses dalam menjalani hidup.

            Penyebabnya mungkin bisa beragam. Bisa juga karena keinginan pribadi atau juga ada dorongan dari luar pribadinya. EQ bisa juga berarti dapat mereformasi pribadi seseorang dari yang pasif jadi super aktif atau sebaliknya. Tentunya dengan berbagai latar belakang yang bersifat agak pribadi seperti emosi yang mungkin bisa terlihat jelas ketika dia bisa memenej suasana hati dan akalnya.

            Ternyata benar EQ berperan penting di mana saja. Seperti tempat kerja, dalam keluarga, masyarakat, pengalaman romantis, dan bahkan kehidupan spiritual; kesadaran emosi , membuat keadaan jiwa kita diperhatikan. EQ memungkinkan kita menentukan pilihan-pilihan yang baik tentang apa yang kita makan, siapa yang akan menjadi teman hidup, pekerjaan apa yang kita lakukan, dan bagaimana menjaga keseimbangan antara kebutuhan pribadi kita dan kebutuhan orang lain.

            Mau tak mau, kita harus percaya, berurusan dengan emosi memang lain jika dibandingkan bila berurusan dengan nilai konkrit. Makanya, kita boleh mengatakan bahwa emosi dan akal adalah dua bagian dari satu keseluruhan. Itulah sebabnya istilah yang baru-baru ini diciptakan untuk menggambarkan kecerdasan hati adalah EQ. EQ mengingatkan pada ukuran standar kecerdasan otak atau IQ.

            Soal kecerdasan hati, saya teringat dengan hadist yang isinya kira-kira sebagai berikut; Hati adalah segumpal darah yang kalau ia ingin berubah, ia akan mudah dibalikkan seperti tangan yang sangat mudah dibolakbalikkan. Suasana hati hati memang bakal mempengaruhi sikap dan perilaku seseorang. Kalau lagi BeTe alias kurang mood, hati-hati supaya tidak menyakiti orang lain.

            Sebenarnya IQ dan EQ adalah sumber-sumber daya sinergis, tambah Jeanne Segal yang menulis buku Melejitkan Kepekaan Emosional. Tanpa yang satu, yang lain menjadi tidak sempurna dan tidak efektif. IQ tanpa EQ dapat membuat anda berhasil meraih A dalam ujian, tetapi tidak akan membuat Anda berhasil dalam kehidupan. Wilayah EQ adalah hubungan pribadi dan antarpribadi; EQ bertanggung jawab atas harga diri, kesadaran diri, kepekaan sosial, dan kemampuan adaptasi sosial Kamu.

            Jeanne Segal, Ph.D menambahkan, “Bila EQ Kamu tinggi, Kamu bakal mampu memahami pelbagai perasaan secara mendalam ketika perasaan-perasaan ini muncul, dan benar-benar dapat mengenali diri Kamu sendiri.” Permasalahan semacam ini bakal terlihat misalnya ketika Kita dihadapkan kepada pilihan yang bikin kepala pusing tujuh keliling.

Entah kenapa tiba-tiba kita tidak bisa memutuskan mana yang mau dipilih. Semua orang pasti pernah mengalami yang satu ini. Makanya, ketika Kita berada dalam kebimbangan, coba deh shalat istikharah yang dijamin bisa lebih memberikan kekuatan untuk berpikir secara jernih dalam memilih.

            Dan solusi konkrit yang paling mudan dan murah bisa dengan menjaga jalur-jalur komunikasi tetap terbuka lebar antara amigdala dan neokorteks, ini dapat membantu kita menunjukkan bela rasa, empati, penyesuaian diri, dan kendali diri.

            Satu lagi yang unik, kebiasaan mental yang menghambat kecerdasan salah satunya ialah berkhayal. Pada masa kanak-kanak kita menutupi ketidakberdayaan dan keputusasaan dengan menggunakan pikiran untuk membangun kendala khayal. Cuma jangan cuma berkhayal, tapi buktikan secara konkrit.

Jadi, buat apa bergundah-gulana ketika nilai merosot atau impian gagal hanya karena angka? Realistislah dengan segala kenyataan yang ada. Tetap belajar dan berdoa. Untuk kebaikan dan kesuksesan di hari ini, besok dan seribu tahun lagi. Sepakat?

 

Area PINTAR, 19 Desember 2008

Untuk yang ber-Ingin, ber-Jalan, ber-Usaha